Jumat, 22 April 2011

kehidupan di perbatasan

Hidup Mereka di Perbatasan Negara



Baru saja liat liputan tentang kehidupan masyarakat yang ada di perbatasan negara Indonesia.. Miris kalo liat kehidupan mereka dan merasa prihatin..
Demi mempertahankan tanah Indonesia dan alasan nasionalisme, mereka tetap bertahan menjadi warga negara Indonesia meskipun dengan keadaan miskin dan tidak diperhatikan pemerintah serta jauh dari fasilitas yang memadai.
Di sisi lain, banyak juga warga Indonesia yang beralih menjadi warga negara Malaysia karena fasilitas yang mereka tawarkan sungguh “menggiurkan” meskipun bukan termasuk fasilitas mewah, setidaknya mereka tidak perlu lagi mengkhawatirkan akan diisi apa perut anak-anak mereka, akan berteduh dimana ketika hujan turun dan pendidikan yang bisa membuat mereka pintar.
Fasilitas yang tidak mereka dapat dari Indonesia, demi alasan “hidup” pula mereka satu persatu beralih ke negara tetangga meskipun mereka menginjakkan kaki di tanah air.
Saya yakin kondisi ini membuat mereka dilema antara “hidup” dan “nasionalisme”. Berita ini bukan pertama kalinya diangkat media dan saya pikir ketika media masih saja mengangkat hal yang sama untuk menjadi topik pemberitaannya itu artinya masalah ini belum juga terselesaikan dengan baik.
Hei,para petinggi yang sangat terhormat dan “populer”
dimana keberadaan kalian?
saling menghujat sesama petinggi,
saling mencela satu sama lain,
hanya melihat yang “setara” tapi tidak melihat “ke bawah”
Belum lagi di perbatasan Timor Leste,
tidak hanya Timor Leste yang terpisah dari Indonesia tapi keluarga para penduduk pun juga ikut terpisah. Bahkan mereka hanya memiliki sebuah jembatan kecil yang mereka gunakan untuk melepas rindu dengan keluarga karena alasan tak memiliki paspor dan berbeda kewarganegaraan.
“Jembatan Air Mata”
Saya sendiri tak tahu harus bersikap seperti apa jika harus dihadapkan pada sebuah “dilema” seperti ini. Sudah saatnya pemerintah mulai melihat, mendengar, dan bersikap terhadap hal-hal “kecil” seperti ini. Masalah ini mungkin tidak sebesar kasus korupsi atau reshuffle atau teroris, dsb tapi masalah kecil pun bisa berdampak besar. Jangan sampai mereka satu persatu berpindah warga negara dan dengan alasan “perpindahan” itu kemudian bisa menjadi bumerang untuk pemerintah karena wilayah mereka bisa saja diakui menjadi wilayah negara tetangga.
Mereka pun berkata :
“..bahkan kalau ditanya siapa nama presiden Indonesia, kita pasti mikir-mikir dulu..”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar